Judul :
Perempuan di Titik Nol
Pengarang : Nawal el-Saadawi
Penerbit : Yayasan Obor Indonesia
Tahun terbit : 1989
Tebal buku : 177 halaman
Sinopsis :
Firdaus adalah seorang perempuan
yang dipenjara dan divonis hukuman mati. Ia tidak pernah berbicara dengan
siapapun, bahkan dengan sipir penjara sekalipun. Ia selalu meludahi setiap
surat kabar yang terdapat gambar seorang pejabat laki-laki atau siapapun
laki-laki yang ada di surat kabar tersebut. Banyak yang menduga ia mengenal
semua laki-laki itu secara pribadi. Tetapi, ia sebenarnya tidak mengenal mereka
semua yang ada di gambar surat kabar tersebut.
Kehidupan Firdaus sangatlah keras.
Sejak ia anak-anak ia harus bertahan hidup menahan lapar, hanya dia yang hidup
diantara banyak adik-adiknya. Menurutnya, adik-adiknya meninggal seperti anak
ayam, meninggal satu per satu seperti anak ayam. Dan setiap ia harus bekerja ke
ladang dengan membawa pupuk di atas kepalanya atau membuat adonan kue. Pernah
suatu kali ia menanyakan kepada ibunya bagaimana bias ia terlahir tanpa ayah,
karena dipandangannya semua wajah laki-laki mirip dengan ayahnya. Maka, ibunya
memarahinya dan memukulknya, bahkan ibunya membawa seorang perempuan yang
membawa sebilah pisau untuk memotong secuil daging pada bagian diantara
pahanya.
Firdaus senang ketika ia disuruh
untuk ke ladang dengan membawa pupuk di atas kepalanya. Karena, ia lebih senang
berada di ladang daripada diam di rumah. Di ladang ia bias bermain-main dengan
kambing menaiki kincir air dan berenang bersama anak laki-laki di sungai. Ia
juga bias dikatakan memiliki teman dekat laki-laki bernama Mohammadain.
Mohammadain selalu mengajaknya bermain pengantin laki-laki dan pengantin
perempuan. Pada saat itu, Firdaus kecil tidak mengerti apa yang dilakukan
Mohammadain terhadapnya, sehingga ia hanya merasakan nikmat yang ia tak tahu di
bagian mana rasa itu timbul. Mereka akan bermainsampai matahari terbenam ketika
ayah Mohammadain memanggilnya dan Mohammadain berjanji akan kembali keesokan
harinya. Tetapi, ibunya tidak pernah menyuruhnya ke ladang lagi.
Firdaus memiliki seorang paman yang
sangat baik kepadanya. Tidak pernah memukulnya seperti ayah dan ibunya.
Pamannya adalah mahasiswa El-Azhar di Kairo. Ia pulang ke rumah Firdaus ketika
masa liburan. Bahkan ketika orang tua Firdaus meninggal, pamannya lah yang
membawanya ke kairo untuk tinggal bersamanya dan disekolahkan oleh pamannya.
Ketika paman Firdaus sudah menikah, ia sering memukuli Firdaus dan memutuskan
untuk memasukkannya ke dalam sekolah asrama yang memiliki asrama. Firdaus pun
tinggal di asrama dan memiliki teman bernama Wafeya yang selalu menjadi teman
untuk bercerita. Dan ia juga mengenal nona Iqbal yang sangat baik kepadanya.
Bahkan yang mendampingi Firdaus ketika mendapatkan nilai terbaik pun nona Iqbal
bukan pamannya.
Setelah Firdaus tamat sekolah
menengah, ia kembali ke rumah pamannya. Istri pamannya tidak menghendaki ia
tinggal bersama mereka, sehingga mereka memutuskan untuk menikahkan Firdaus
dengan Syekh Mahmoud, seorang saudagar yang usianya sudah mencapai enam puluh
tahun. Malang nasib Firdaus, ia harus menerima nasibnya untuk tinggal bersama
duda tua yang memiliki bisul di bagian muka dan bibirnya yeng menimbulkan bau
tidak sedap. Syekh Mahmoud tidak segan-segan untuk memukul Firdaus jika ia
tidak menghabiskan makanannya sampai tidak ada sisa di piringnya dan
memukulinya dengan tongkat ketika ia pergi ke rumah pamannya hingga keluar
darah dari mulut dan hidungnya. Akhirnya Firdaus pun pergi meninggalkan rumah
Syekh Mahmoud.
Ketika Firdaus berhenti di sebuah
warung kopi, ia ditolong oleh pemilik watung itu yang bernama Bayoumi, yang
membolehkan ia tinggal di flat miliknya dan akan dicarikan pekerjaan. Hingga
suatu hari, Bayoumi dating dengan teman-temannya dan memukuli Firdaus serta
memperkosanya. Dan Firdaus pun melarikan diri dari tempat Bayoumi itu.
Firdaus berjalan sampai pagi, hingga
ia tertidur di sebuah bangku yang menghadap ke Sungai Nil. Ia didatangi oleh
sosok perempuan yang bernama Sharifa. Sharifa mengajaknya ke sebuah apartemen,
di sana Firdaus dirubah dengan didandani oleh Sharifa sehingga terlihat sangat
cantik. Sharifa mendandani Firdaus seperti itu karena Sharifa mempekerjakan
Firdaus untuk menjadi seorang pelacur. Setiap malam ada saja laki-laki yang
datang ke apartemen Firdaus dan dilayani oleh Firdaus. Hingga, suatu hari ia
mendengar Sharifa sedang adu mulut dengan seorang laki-laki yang bernama Fawzi.
Fawzi bermaksud akan membawa dan menikahi Firdaus, tetapi Sharifa menolaknya.
Hingga mereka terdengar sedang berkelahi. Tetapi, kemudian suara mereka
menghilang dan hanya tinggal desah nafas mereka. Firdaus berjalan pelan-pelan
untuk melihat mereka dan yang ia lihat Sharifa sedang tidur dengan Fawzi tanpa
menggunakan sehelai baju. Firdaus pergi dari tempat Sharifa.
Setelah itu, dengan ijazah sekolah menengah
yang ia punya, Firdaus melamar pekerjaan di sebuah perusahaan. Ia diterima
sebagai seorang kaeyawan yang bergaji kecil. Tetapi, ia mampu menyewa sebuah
flat untuk tempatnya tinggal. Di perusahaan itu ia mengenal Ibrahim, mereka
menjalin hubungan dekat bahkan sangat dekat, hingga Firdaus merasa dirinya
telah jatuh cinta kepada Ibrahim. Tetapi, ia merasa hancur ketika ia mendengar
bahwa Ibrahim telah bertunangan dengan anak perempuan seorang direktur. Firdaus
semakin membenci laki-laki. Ia merasa dipermainkan dan ia memutuskan untuk
keluar dari perusahaan tersebut.
Firdaus kembali bekerja sebagai
pelacur, pelacur kelas atas tepatnya. Karena, ia tak mau dibayar dengan harga
murah, ia selalu meminta upah yang tinggi. Karena ia kembali bkerja sebagai pelacur,
ia mempunyai sebuah apartemen mewah, sebagai tempat tinggalnya dan tempat untuk
bekerja. hingga suatu hari ada seorang germo mendatanginya dan memaksa Firdaus
untuk ikut dengannya dan bekerja dengannya. Firdaus menolak dan membuat
laki-laki germo itu naik pitam dan mengeluarkan sebuah pisau untuk membunuh
Firdaus, tetapi Firdaus berhasil merebut pisau itu dan menikam leher germo itu
berulang kali. Dan kemudian ia pergi. Di tengah jalan ia bertemu dengan seorang
pangeran yang mau membayarnya mahal, dan Firdaus mengatakan bahwa ia telah
mebunuh seorang laki-laki dan akan membunuh setiap laki-laki. Pangeran itu
ketakutan dan lari sambil melaporkannya kepada polisi. Firdaus pun ditangkap
dan divonis hukuman mati akrena ia dianggap sebagai pembunuh yang gila. Firdaus
menolak ketika diminta untuk mengajukan grasi kepada presiden, karena ia
beranggapan bahwa dengan vonis hukuman mati adalah jalan terbaik untuk bebas
dari laki-laki.
Analisis :
Buku ini adalah salah satu novel bergaya Feminisme.
Dimana penulis menceritakan bagaimana seorang perempuan seperti Firdaus
bertahan hidup dengan dunianya yang sangat kejam. Perlakuan terhadap kaum perempuan
yang tidak manusiawi sangat jelas terlihat dalam novel ini. Novel ini
menjelaskan bagaimana perlakuan laki-laki terhadap perempuan yang tidak
semestinya. Dan menuntut adanya persamaan gender. Penulis menggambarkan tokoh
Firdaus sebagai tokoh yang sangat menentang adanya kaum laki-laki. Ia
menganggap bahwa laki-laki hanyalah memperbudak perempuan. Menjadi seorang
istri juga dianggap rendah di dalam novel ini, karena kewajiban seorang istri
melayani suami dan mengurusi rumah tangga dilaksanakan tanpa upah sedikitpun.
Dalam novel ini juga menggambarkan bagaimana seorang istri hanya dimanfaatkan
dan diperbudak oleh suaminya. Jika istri melakukan kesalahan maka seorang suami
tidak segan untuk memukul istrinya.
Menurut saya, novel ini sangat bagus untuk kalangan
laki-laki maupun perempuan. Karena banyak sekali pelajaran yang dapat diambil
dari novel ini. Bagaimana perjuangan seorang perempuan untuk mendapatkan haknya
dan bagaimana perlakuan yang seharusnya tidak diberikan kepada perempuan
diberikan oleh laki-laki. Untuk kaum laki-laki, novel ini memberikan gambaran
bagaimana perasaan perempuan jika disakiti hati dan fisiknya. Begitulah
gambaran yang perasaan perempuan yang diperlakukan kasar oleh laki-laki jelas
terlihat dalam tokoh Firdaus. Untuk kaum perempuan, perjalanan hidup Firdaus
adalah sebuah potret kecil bagaimana harga diri perempuan yang terinjak-injak. Sehingga,
perempuan lebih bias menjaga diri dan kelakuannya agar diakui dan disamakan
gendernya dengan laki-laki, agar kaum laki-laki tidak semaunya sendiri
memperlakukan perempuan.