Minggu, 23 Desember 2012

Novel Para Priyayi Karya Umar Kayam yang Mampu Menghipnotis Pembaca



Sastra adalah pengetahuan puitik atau naratif. Pengetahuan ini dibungkus dengan simbol-simbol atau lambang-lambang, sehingga maknanya disampaikan secara tidak langsung atau makna kiasan. Namun, seiring dengan perkembangan zaman yang semakin maju dan modern sastra tidak hanya berjenis puitik atau puisi saja, tetapi lebih beragam. Contohnya dalam prosa ada banyak sekali jenis-jenis karya sastra yang berkembang seperti novel, roman dan cerpen. Salah satu jenis yang diminati saat ini adalah novel.
Novel berasal dari bahasa italia novella, yang dalam bahasa jerman Novelle, dan dalam bahasa Yunani novellus. Kemudian masuk ke Indonesia menjadi novel. Dewasa ini istilah novella dan novelle mengandung pengertian yang sama dengan istilah Indonesia novelette (Inggris: novelette), yang berarti sebuah karya prosa fiksi yang panjangnya cakupan, tidak terlalu panjang, namun juga tidak terlalu pendek. Novel merupakan karya fiksi yang mengungkapkan aspek-aspek kemanusiaan yang lebih mendalam dan disajikan dengan halus (Nurgiyantoro, 1995: 9). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (1995 : 694) Novel adalah karangan prosa yang panjang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang-orang disekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku.
Salah satu teori dalam teori sastra yang dapat digunakan untuk mengkaji sebuah novel adalah Teori Formal (Formalisme) yang mengkaji bentuknya atau unsur ekstrinsik kemudian yang paling banyak dibahas dalam teori ini adalah unsur intrinsik yang meliputi alur (plot), tokoh, latar (setting), sudut pandang, dan lain-lain, yang kesemuannya tentu bersifat naratif. Dan yang akan kita kaji di sini adalah novel karya Umar Kayam berjudul Para Priyayi.
Novel Para Priyayi ini adalah salah satu novel karya Umar Kayam yang terkenal pada periode 1990 an. Umar Kayam adalah salah satu sastrawan yang memadukan bahasa daerah yang kental dan bahasa Indonesia di dalam karyanya. Novel Para Priyayi ini disusun dengan rapi sesuai dan menceritakan hampir semua tiokoh yang ada di dalamnya. Ia menggambarkan bagaimana kehidupan pada saat itu. Umar Kayam adalah sastrawan yang berasal dari Ngawi, Jawa Timur. Sehingga ia membuat salah satu karyanya itu berlatarbelakangkan sekitar daerah tersebut.
Novel ini menggunakan alur campuran (maju-mundur) dan flashback (sorot balik). Pada awalnya memang membuat pembaca bingung bagamana alur yang digunakan karena menggambarkan Wanagalih hampir secara keseluruhan. Ketika masuk di bagian Lantip barulah dapat diketahui bagaimana alur dan maksud cerita. Alur sorot balik nampak dominan pada novel ini. Seperti pada bagian Lantip yang menceritakan bagaimana awal kehidupan. Lantip yang awalnya anak desa yang tidak bersekolah disekolahkan oleh priyayi bernama Sastrodarsono.
Setelah menceritakan tentang Lantip yang didominasi dengan alur sorot balik kehidupan Lantip. Pada bagian kedua yang menceritakan Sastrodarsono itu nampak jelas sekali bahwa Umar Kayam menggunakan alur mundur. Karena sebelumnya diceritakan bahwa Sastrodarsono adalah priyayi. Tetapi pada bagian kedua itu Umar Kayam juga menggunakan alur campuran. Alur mundur ketika menceritakan siapa dan berasal darimana Sastrodarsono dan alur maju ketika bagaiman lika-liku kehidupan Sastrodarsono hingga ia menjadi priyayi.
Setelah menceritakan segala tentang Sastrodarsono dan keluarganya pada bagian kedua, selanjutnya menceritakan bagaimana kisah hidup masing-masing tokoh dalam novel tersebut. Alur yang digunakan juga sama yaitu alur campuran. Dengan menggunakan alur campuran seperti itu, maka novel Para Priyayi ini menjadi lebih hidup. Karena, dengan menceritakan lika-liku kehidupan semua tokoh yang ada dalam novel tersebut dapat membuat pembaca merasa mengenal semua tokoh yang ada di dalam novel tersebut.
Novel ini juga merupakan salah satu novel yang menarik karena alurnya. Banyak novel-novel di Indonesia yang menggunakan alur campuran semacam itu. Karena alur yang campuran dapat merangsang pembaca untuk terus mengikuti cerita dalam novel tersebut. Sehingga, pembaca akan muncul rasa penasaran dengan jalan cerita dalam novel dan akan terus membaca sampai cerita dalam novel itu selesai dan mengungkap semua rasa penasaran akan jalan cerita dalam novel tersebut.
Tokoh-tokoh yang ada dalam novel Para Priyayi ni sangat bermacam-macam dan banyak sekali. Karena sebenarnya makna dari judul Para Priyayi adalah menceritakan bagaimana kehidupan orang-orang yang dianggap sebagai priyayi ada saat itu. Sehingga, hampir semua tokoh yang ada dalam novel tersebut dijabarkan dan djelaskan satu per satu.
Pembagian tokoh ada 3 jenis, berdasarkan tipe, berdasarkan peran dan berdasarkan watak. Yang selama ini kita tahu bersama-sama hanyalah berdasarkan peran dan watak saja. Padahal, tokoh-tokoh dalam sebuah karya sastra khususnya novel itu dapat dibedakan berdasarkan tipe sifat-sifatnya. Pembagian berdasarkan tipe sifat tokoh ini dibagi menjadi dua yaitu tipologis dan psikologis. Jika masuk dalam tipologis maka sifat tokoh itu jika baik akan baik terus, jika buruk akan buruk terus. Seperti tokoh Sunandar dalam novel Para Priyayi ini, walaupun Sunandar dididik dengan keras oleh Sastrodarsono, tetapi sifat nya tetap tidak berubah hingga maninggal pun sifatnya yang buruk dan badung itu tidak berubah. Jika masuik dalam tipe psikologis, maka sifat tokoh itu berubah-rubah yang sifatnya baik bisa menjadi buruk dan yang sifatnya buruk bisa menjadi baik. Seperti tokoh Pak Martokebo yang awalnya baik kepada tetangga-tetangganya berubah menjadi buruk dan menangkap semua tetangganya yang tidak bersalah, karena terpengaruh oleh PKI yang sedang merajalela di Wanagalih.
Berdasarkan perannya ada tokoh utama dan tokoh sampingan atau pembantu. Dalam novel Para Priyayi ini ada banyak tokoh utama yang diceritakan dalam novel. Yaitu Sastrodarsono, Dik Ngaisah (Istri Sastrodarsono), Lantip, Hardojo, Noegroho dan Harimurti. Tokoh-tokoh tersebut yang banyak diceritakan jalan kehidupannya. Tokoh-tokoh tersebut juga banyak berperan dalam setiap bagiannya, karena mereka adalah priyayi-priyayi yang dipilih oleh penulis yaitu Umar Kayam untuk menjadi tokoh-tokoh yang dominan dalam novelnya.
Setelah itu, berdasarkan watak. Pembagian tokoh berdasarkan wataknya dibagi menjadi dua. Tokoh antagonis dan tokoh protagonis. Tokoh antagonis adalah tokoh yang berwatak antagonistis yaitu watak yang selalu menentang tokoh utama. Contoh dalam novel Para Priyayi ini adalah Sunandar yang tidak pernah mendengarkan dan selalu membuat ulah di sekolahnya, sehingga ia harus terpaksa ditarik keluar oleh Sastrodarsono. Setelah ia tak bersekolah lagi, ia diberi tugas untuk menjaga kebun belakang rumah Sastrodarsono, tetapi wataknya tetap seperti itu. Ketika ia diberi tanggung jawa oleh Sastrodarsono untuk mengajar di Wanalawas ia malah menghamili gadis Wanalawas dan mencuri uang tabungan gadis itu dan emboknya. Tokoh protagonis adalah tokoh yang berwatak baik atau bertolak belakang dengan watak tokoh antagonis. Banyak sekali tokoh di dalam novel Para priyayi ini yang berwatak protagonis. Seperti tokoh Lantip yang baik budi pekertinya, ia dapat memosisikan dirinya sesuai dengan perannya. Ketika ia belum diangkat anak oleh Hardojo, salah satu anak Sastrodarsono, ia tidak bertindak sombong dan congkak. Tetapi, ia malah bersikap sopan dan sangat baik, walaupun ia seorang anak dari Sunandar salah satu tokoh antagonis dalam novel tersebut. Kemudian tokoh Hardojo yang tidak marah ketika ia dihadapkan sebuah kenyataan bahwa hubungannya dengan kekasihnya yang bernama Nunuk atau biasa ia panggil dengan sebutan Dik Nunuk tidak direstui oleh keluarganya karena Nunuk adalah penganut agama Katholik. Dan masih banyak lagi tokoh-tokoh protagonist yang ada di dalam novel tersebut.
Memang banyak sekali tokoh-tokoh dengan watak protagonis, karena sebenarnya novel ini mengajarkan bagaimana kita dapat berbuat baik kepada semua orang. Selain itu, novel Para Priyayi ini juga secara tidak langsung memberikan sugesti kepada pembacanya bahwa ketika seseorang dalam posisi jabatan yang tinggi di dalam masyarakat dan dipandang di masyarakat, hendaknya tidak sombong dan dapat menjadi contoh yang baik untuk keluarga, saudara dan para tetangganya.
Seperti yang telah disebutkan di atas bahwa sang penulis yaitu Umar Kayam menggunakan latar ibukota kabupaten yaitu Wanagalih dan daerah-daerah di sekitar Wanagalih. Seperti, Desa Wanalawas, Desa Kedungsimo, Desa Jogorogo. Selain itu dalam novel in juga disebutkan berbagai latar tempat dimana tokoh-tokoh itu berada dan bekerja. Seperti pada bagian Hardojo yang mengajar di sekolah HIS di Wonogiri dan temat Nunuk bekerja yaitu di sekolah HIS di Solo. Pada bagian Noegroho dimana ia bekerja mengajar sebagai guru di Sekolah Rakyat Sempurna di Jetis, Yogyakarta dan di Bantul, Yogyakarta ketika Noegroho menjadi daidan atau menjadi opsir Peta pada zaman Jepang itu.
Selain latar tempat, ada latar suasana yang terlihat secara jelas dalam novel Para Priyayi ini. Latar suasana yang digunakan Umar Kayam sangat beragam. Mulai dari suasana ketika zaman penjajahan Belanda yang dibuktikan dengan kosakata-kosakata bahasa Belanda dan sebutan-sebutan yang digunakan pada saat itu seperti gupermen, School Opziener, dan yang lainnya. Umar Kayam juga menuliskan dengan jelas ketika Indonesia berada dalam masa penjajahan Jepang. Hal itu dapat dibuktikan dengan penggunaan banyak kosakata-kosakata dalam bahasa Jepang seperti, Kyoren, daidan, chudancho, bushido dan yang lainnya.  Tidak hanya itu, pada masa maraknya PKI dan Lekra pun digambarkan dengan jelas. Contohnya ketika Umar Kayam menuliskan bagaimana hukuman-hukuman mati yang disaksikan oleh Lantip di alun-alun Wanagalih. Di situ digambarkan dengan jelas bagaimana proses hukuman itu dari yang ditembak mati, disiksa bahkan sampai yang dipenggal kepalanya. Suasana itu nampak jelas ketika eksekusi Pak Haji Mansyur yang ditembak mati karena ia adalah salah satu tokoh agama. Pada masa PKI telah selesai, masa pembersihan-pembersihan terhadap pangikut-pengikut PKI pun nampak jelas sekali, ketika pada bagian Harimurti, anak Hardojo yang aktif di organisasi Lekra yang dianggap sebagai bagian dari PKi. Sehingga, Harimurti harus diserahkan kepada tentara untuk diamankan.
Setelah kita membahas aspek-aspek yang menarik dalam novel Umar Kayam ini semakin jelas bahwa sebuah karya sastra itu harus memiliki unsure intrinsik dan ekstrinsik yang padu agar karya sastra itu lebih menarik minat pembaca. Selain itu, dalam novel Para Priyayi ini Umar Kayam menunjukkan bahwa alur campuran yang ia gunakan, tokoh-tokoh yang terlibat di dalamnya, dari peran, watak dan tipe sifat dapat dipahami dengan mudah jika dilihat dari keseluruhan isi dalam novel tersebut. Dibalik presepsi pembaca ketika membaca awal cerita yang mungkin menganggap tidak jelas terdapat hal-hal yang menarik di dalamnya. Seperti yang telah disebutkan di atas, hampir semua aspek digunakan oleh Umar Kayam sehingga menghasilkan sebuah novel dengan isi yang padu, jalan cerita yang menarik dan penggambaran suasana yang sangat jelas. Sehingga, novel ini dapat menghipnotis pembaca agar tidak meninggalkan begitu saja dan membacanya sampai bagian akhir novel tersebut.

Chairil Anwar Pelopor Puisi Indonesia Modern



Sastra adalah pengetahuan puitik atau naratif. Pengetahuan ini dibungkus dengan simbol-simbol atau lambang-lambang, sehingga maknanya disampaikan secara tidak langsung atau makna kiasan. Sastra yang tertua adalah sastra yang bergenre puisi atau puitik. Dapat dibuktikan dengan adanya karya sastra yang berjudul “The Epic of Gillgamesh” berbentuk puisi yang berisikan doa-doa masyarakat Sumeria yang diciptakan 30.000 tahun yang lalu.
Jika kita berbicara mengenai puisi yang pasti identik dengan seorang penyair. Semua negara pasti memiliki penyair legendaries di negaranya masing-masing, tidak terkecuali di Indonesia. Indonesia memiliki banyak sekali sastrawan-sastrawan yang mendunia dan juga penyair -penyair yang hebat. Paduan kata yang ada di dalam puisi mereka pun sangat padu dan terangkai dengan indah.
Masih ingatkah kita dengan seorang penyair muda legendaris yang meninggal dunia di usia muda ? masih ingatkah kita dengan karya-karyanya yang menggebu-gebu yang membakar semangat pemuda untuk melawan penjajah ? dan masih ingatkah salah satu karyanya yang berjudul Karawang-Bekasi yang sajak-sajaknya sangat indah ?
            Untuk menjawab semua pertanyaan itu, mari kita menoleh ke belakang dan menganalisa salah satu karya seorang penyair muda yang memiliki semangat yang menggebu-gebu dengan menggunakan salah satu teori sastra yaitu Teori Formal (Formalisme) yang memiliki pandangan bahwa karya sastra itu dikaji unsure intrinsik (isi) dan ekstrinsik (bentuk) nya. Chairil Anwar adalah penyair muda yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan bentuk dan isi perpuisian Indonesia modern. Ia menampilkan puisi yang bebas dan tajam dengan kemampuan memilih kata yang padu.
Puisi yang berjudul Krawang-Bekasi karya Chairil Anwar ini adalah salah satu puisi perjuangan yang diciptakan pada zaman kemerdekaan. Puisi karya Chairil Anwar adalah puisi modern yang terpengaruh oleh gaya-gaya Eropa. Dengan tujuan agar karya-karya sastra Indonesia dapat diakui oleh dunia. Chairil Anwar adalah salah satu penyair yang menganut aliran ekspresionisme yaitu aliran yang menggambarkan letupan jiwa yang meluap-luap. Dalam puisinya ia menggambarkan bagaimana keadaan di perbatasan antara Krawang-Bekasi, sehingga ia lebih memilih dua nama daerah itu sebagai judul puisinya. Dengan judul tersebut lebih menekankan bahwa puisi Krawang-Bekasi ini adalah hasil letupan semangat Chairil yang menganut aliran ekspresionisme dengan hasil karyanya yang bersifat realisme-sosial yang banyak menyatakan tentang pemberontakan terhadap penjajahan dan penindasan kaum penjajah.
Pada bait awal :
Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?
Disini Chairil Anwar menggunakan kata kami tidak menggunakan kata aku lagi seperti di puisinya yang berjudul “AKU”. Karena, kata kami lebih tepat untuk mewakili para pejuang-pejuang kemerdekaan yang jumlahnya tidak hanya satu, tetapi ratusan bahkan ribuan. Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi.//tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi.// pada rangkaian baris ini kata-kata yang digunakan sangat padu dan lugas. Baris Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi, menyatakan perjuangan pemuda-pemuda di kawasan perbatasan. Ia menggunakan kata terbaring bukan gugur karena kata  terbaring merupakan kata yang mewakili bahwa sebenarnya mereka masih berjuang walaupun telah dilemahkan oleh penjajah. Dan pada baris tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi ini menggambarkan betapa mirisnya keadaan para pejuang yang berjuang di kawasan perbatasan. Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami, yang dimaksud dengan deru bukanlah tiruan bunyi angin maupun mobil, tetapi ia mengibaratkan suara-suara para pejuang yang semangat membela tanah air yang mungkin lebih keras dibandingkan tiruan bunyi angin maupun mobil. Dan nampak pada bait tersebut disusun secara rapi dengan akhiran bunyi yang sama yaitu pada kata Krawang-Bekasi, lagi, kami dan hati.
Ia juga menggunakan repetisi yang baik dan tersusun secara baik dan padu. Ini terlihat pada bait :
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Pada bait ini menggambarkan semangat Chairil Anwar agar generasi muda selanjutnya meneruskan perjuangan para pahlawan kemerdekaan. Kenang, kenanglah kami // Teruskan, teruskan jiwa kami , baris  ini menggambarkan bahwa semangat Chairil Anwar sangat besar untuk memperjuangkan kemerdekaan dan menaruh harapan agar generasi muda selanjutnya dapat meneruskan perjuangan pahlawan kemerdekaan. Menjaga Bung Karno // menjaga Bung Hatta // menjaga Bung Sjahrir , ia memilih menggunakan tokoh-tokoh itu karena tokoh-tokoh tersebut yang dapat mewakili semua tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan. Kata Menjaga adalah makna kiasan karena yang dimaksud Menjaga adalah bukan makna sebenarnya dari Menjaga, melainkan sebuah ungkapan bahwa perjuangan-perjuangan tokoh-tokoh kemerdekaan itu harus dijaga, agar Indonesia semakin maju di masa depan. Pada bait tersebut juga ia susun dengan padu dan rapi dengan akhiran bunyi yang sama pada baris pertama dan kedua yang berakhiran dengan kata kami.
            Puisi Krawang-Bekasi ini termasuk dalam puisi Indonesia Modern yang tidak terikat dengan aturan-aturan tertentu. Terlihat pada bait-bait :
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

pada bait-bait tersebut sudah jelas bahwa puisi Krawang-Bekasi ini tidak terikat dengan aturan-aturan yang ada dalam puisi lama. Salah satu contoh puisi lama seperti pantun, contoh pantun :
Sungguh elok asam belimbing
Tumbuh dekat limau lungga
Sungguh elok berbibir sumbing
Walau marah tertawa juga
pada pantun seperti di atas jelas ada aturan yang mengikatnya yaitu satu bait terdiri dari empat baris. Kemudian pada pantun terikat dengan sajak ab-ab (belimbing/sumbing=a dan lungga/juga=b). Pada puisi Krawang-Bekasi kita tidak melihat itu. Seperti pada bait kedua :
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.
Pada bait ini sajak yang digunakan tidak seperti pada pantun, tetapi lebih bebas dan tidak harus bersajak ab-ab pada kata akhir setiap baris. Pada pantun tersebut juga setiap baris terdiri dari 4 kata atau paling tidak terdiri dari 8-12 suku kata. Pada baris pertama sampai keempat pantun tersebut masing-masing baris terdiri dari 4 kata saja, sedangkan pada puisi Krawang-Bekasi terlihat lebih bebas dengan jumlah kata setiap barisnya yang tidak hanya terdiri dari 4 kata tetapi lebih banyak dari 4 kata, bahkan pada baris  Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi terdiri dari 8 kata.
            Selain itu, jika dilihat dari segi isinya, pantun harus terdiri dari 4 baris seperti yang diungkapkan di atas yang susunannya terdiri dari 2 baris sampiran dan 2 bari isi. Sedangkan puisi Krawang-Bekasi ini bahasanya lebih padat dan semua merupakan isi.
            Dalam puisi Krawang-Bekasi ini banyak diungkapkan oleh Chairil Anwar dengan rangkaian kata-kata yang bermajas agar lebih menarik tetapi tetap memperlihatkan semangat yang menggebu-gebu. Majas-majas yang digunakan antara lain adalah majas repetisi, litotes dan personifikasi. Majas repetisi dapat kita lihat pada bait :

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir.
Majas litotes pada bait :
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan.
Majas personifikasi pada baris Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak .
            Dengan adanya puisi-puisi karya Chairil Anwar yang bebas dan tajam ini, maka sejak saat itu puisi Indonesia Modern mulai berkembang pesat. Dan chairil anwar termasuk dalam salah satu sastrawan muda yang legendaris karena karya-karyanya yang mampu menggugah semangat nasionalisme para pemuda pada saat itu. Ia juga memberikan nuansa baru pada goresan-goresan pena sastrawan Indonesia .
            Maka dari itu, apabila kita melihat dan menilai sebuah karya sastra itu, jangan dilihat dari segi pengarang saja, tetapi juga dilihat dari segi isi dan penggunaan bahasa dan ketepatan pemilihan-pemilihan kata nya yang padu. Dan bagaimana pula penyampaian yang dilakukan oleh penulis. Seperti Chairil anwar, ia adalah salah seorang sastrawan yang meninggal di usia muda dengan penyakit nya yang disebabkan oleh kebiasaannya bermain perempuan. Tetapi, walaupun dia meninggal di usia muda, karya-karyanya tetap dikenang bahkan masih dikenal dan terkenal sampai pada masa sekarang ini.

Senin, 17 Desember 2012

SEKETIKA HENING (06 Desember 2012)



Dalam senja tak ada suara
Seakan-akan sepi laksana dunia telah mati
Dalam langit yang mendung
Tak ada burung yang beterbangan
Seakan-akan waktu telah berhenti

Hening..
Seketika hening…
Ketika aku menyadari bahwa aku berada dalam jurang
Jurang yang sangat gelap

 
Dimana ?? kemana ???
Dimana semua orang ?
Kemana mereka pergi ?
Mengapa hanya tinggal aku disini ??

Tak dapat aku merasa apapun
Kecuali hening, hening dan hening…..

Jumat, 07 Desember 2012

Puisi cinta sejati



Kenapa kita menutup mata ketika kita tidur ?
 Kenapa kita menutup mata ketika kita menangis ?
 Kenapa kita menutup mata ketika kita membayangkan sesuatu ?
 Kenapa kita menutup mata ketika kita berciuman ?
 Hal hal yang terindah di dunia ini biasanya tidak terlihat

Ada hal hal yang tidak ingin kita lepaskan
 dan ada orang orang yang tidak ingin kita tinggalkan
 Tapi ingatlah, melepaskan bukan berarti akhir dari dunia
 melainkan awal dari kehidupan yang baru

Kebahagiaan ada untuk mereka yang menangis
 Kebahagiaan ada untuk mereka yang telah tersakiti
 Kebahagiaan ada untuk mereka yang telah mencari dan telah mencoba

Karena merekalah yang bisa menghargai
 Betapa pentingnya orang yang telah menyentuh kehidupan mereka

Cinta adalah ketika kamu menitikkan air mata, tetapi masih peduli
 terhadapnya
 Cinta adalah ketika dia tidak mempedulikanmu, kamu masih menunggunya
 dengan setia
 Cinta adalah ketika dia mulai mencintai orang lain dan kamu masih
 bisa tersenyum
 sambil berkata , ” Aku turut berbahagia untukmu ”

Apabila cintamu tidak berhasil, bebaskanlah dirimu
 Biarkanlah hatimu kembali melebarkan sayapnya dan terbang ke alam
 bebas lagi
 Ingatlah, kamu mungkin menemukan cinta dan kehilangannya..
 Tetapi saat cinta itu dimatikan, kamu tidak perlu mati bersamanya..

Orang yang terkuat bukanlah orang yang selalu menang dalam segala hal
 Tetapi mereka yang tetap tegar ketika mereka jatuh
 Entah bagaimana, dalam perjalanan kehidupanmu,
 Kamu akan belajar tentang dirimu sendiri dan suatu saat kamu akan
 menyadari
 Bahwa penyesalan tidak seharusnya ada di dalam hidupmu
 Hanyalah penghargaan abadi atas pilihan pilihan kehidupan yang telah
 kau buat
 Yang seharusnya ada di dalam hidupmu

Sahabat sejati akan mengerti ketika kamu berkata, ” Aku lupa ”
 Sahabat sejati akan tetap setia menunggu ketika kamu berkata, ”
 Tunggu sebentar ”
 Sahabat sejati hatinya akan tetap tinggal, terikat kepadamu
 ketika kamu berkata, ” Tinggalkan aku sendiri ”

Saat kamu berkata untuk meninggalkannya,
 Mungkin dia akan pergi meninggalkanmu sesaat,
 Memberimu waktu untuk menenangkan dirimu sendiri,
 Tetapi pada saat saat itu, hatinya tidak akan pernah meninggalkanmu
 Dan sewaktu dia jauh darimu, dia akan selalu mendoakanmu dengan air
 mata

Lebih berbahaya mencucurkan air mata di dalam hati
 daripada air mata yang keluar dari mata kita
 Air mata yang keluar dari mata kita dapat dihapus,
 Sementara air mata yang tersembunyi,
 Akan menggoreskan luka di dalam hatimu
 yang bekasnya tidak akan pernah hilang

Walaupun dalam urusan cinta, kita sangat jarang menang,
 Tetapi ketika cinta itu tulus…
 meskipun mungkin kelihatannya kamu kalah,
 Tetapi sebenarnya kamu menang karena kamu dapat berbahagia
 sewaktu kamu dapat mencintai seseorang
 Lebih dari kamu mencintai diri kamu sendiri…

Akan tiba saatnya dimana kamu harus berhenti mencintai seseorang
 Bukan karena orang itu berhenti mencintai kita
 Atau karena ia tidak mempedulikan kita
 Melainkan saat kita menyadari bahwa orang itu
 Akan lebih berbahagia apabila kita melepasnya
 Tetapi apabila kamu benar benar mencintai seseorang,
 Jangan dengan mudah kita melepaskannya
 Berjuanglah demi cintamu… Fight for your dream !
 Itulah cinta yang sejati..
 Bukannya seperti prinsip ” Easy come.. Easy go… ”

Lebih baik menunggu orang yang benar benar kamu inginkan
 Daripada berjalan bersama orang ” yang tersedia ”
 Lebih baik menunggu orang yang kamu cintai
 Daripada orang yang berada di ” sekelilingmu ”

Lebih baik menunggu orang yang tepat
 Karena hidup ini terlalu berharga dan terlalu singkat
 Untuk dibuang dengan hanya ” seseorang ”
 Atau untuk dibuang dengan orang yang tidak tepat

Kadang kala, orang yang kamu cintai adalah orang yang paling
 menyakiti hatimu
 Dan kadang kala teman yang membawamu di dalam pelukannya
 Dan menangis bersamamu adalah cinta yang tidak kamu sadari

Ucapan yang keluar dari mulut seseorang
 Dapat membangun orang lain, tetapi dapat juga menjatuhkannya
 Bila bukan diucapkan pada orang, waktu, dan tempat yang benar
 Ini jelas bukan sesuatu yang bijaksana

Ucapan yang keluar dari mulut seseorang
 Dapat berupa kebenaran ataupun kebohongan untuk menutupi isi hati
 Kita dapat mengatakan apa saja dengan mulut kita
 Tetapi isi hati kita yang sebenarnya tidak akan dapat dipungkiri

Apabila kamu hendak mengatakan sesuatu..
 Tataplah matamu di cermin dan lihatlah kepada matamu
 Dari situ akan terpancar seluruh isi hatimu
 Dan kebenaran akan dapat dilihat dari sana

By Chairil Anwar