Sastra
adalah pengetahuan puitik atau naratif. Pengetahuan ini dibungkus dengan
simbol-simbol atau lambang-lambang, sehingga maknanya disampaikan secara tidak
langsung atau makna kiasan. Namun, seiring dengan perkembangan zaman yang
semakin maju dan modern sastra tidak hanya berjenis puitik atau puisi saja,
tetapi lebih beragam. Contohnya dalam prosa ada banyak sekali jenis-jenis karya
sastra yang berkembang seperti novel, roman dan cerpen. Salah satu jenis yang
diminati saat ini adalah novel.
Novel berasal dari bahasa italia novella,
yang dalam bahasa jerman Novelle, dan dalam bahasa Yunani novellus.
Kemudian masuk ke Indonesia menjadi novel. Dewasa ini istilah novella dan
novelle mengandung pengertian yang sama dengan istilah Indonesia novelette
(Inggris: novelette), yang berarti sebuah karya prosa fiksi yang panjangnya
cakupan, tidak terlalu panjang, namun juga tidak terlalu pendek. Novel
merupakan karya fiksi yang mengungkapkan aspek-aspek kemanusiaan yang lebih
mendalam dan disajikan dengan halus (Nurgiyantoro, 1995: 9). Dalam Kamus Besar
Bahasa Indonesia (KBBI) (1995 : 694) Novel adalah karangan prosa yang panjang
mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang-orang
disekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku.
Salah satu teori dalam teori sastra yang
dapat digunakan untuk mengkaji sebuah novel adalah Teori Formal (Formalisme)
yang mengkaji bentuknya atau unsur ekstrinsik kemudian yang paling banyak
dibahas dalam teori ini adalah unsur intrinsik yang meliputi alur (plot),
tokoh, latar (setting), sudut pandang, dan lain-lain, yang kesemuannya tentu
bersifat naratif. Dan yang akan kita kaji di sini adalah novel karya Umar Kayam
berjudul Para Priyayi.
Novel Para Priyayi ini adalah salah satu
novel karya Umar Kayam yang terkenal pada periode 1990 an. Umar Kayam adalah
salah satu sastrawan yang memadukan bahasa daerah yang kental dan bahasa
Indonesia di dalam karyanya. Novel Para Priyayi ini disusun dengan rapi sesuai
dan menceritakan hampir semua tiokoh yang ada di dalamnya. Ia menggambarkan
bagaimana kehidupan pada saat itu. Umar Kayam adalah sastrawan yang berasal
dari Ngawi, Jawa Timur. Sehingga ia membuat salah satu karyanya itu
berlatarbelakangkan sekitar daerah tersebut.
Novel ini menggunakan alur campuran
(maju-mundur) dan flashback (sorot balik). Pada awalnya memang membuat pembaca
bingung bagamana alur yang digunakan karena menggambarkan Wanagalih hampir
secara keseluruhan. Ketika masuk di bagian Lantip barulah dapat diketahui bagaimana
alur dan maksud cerita. Alur sorot balik nampak dominan pada novel ini. Seperti
pada bagian Lantip yang menceritakan bagaimana awal kehidupan. Lantip yang
awalnya anak desa yang tidak bersekolah disekolahkan oleh priyayi bernama
Sastrodarsono.
Setelah menceritakan tentang Lantip yang
didominasi dengan alur sorot balik kehidupan Lantip. Pada bagian kedua yang
menceritakan Sastrodarsono itu nampak jelas sekali bahwa Umar Kayam menggunakan
alur mundur. Karena sebelumnya diceritakan bahwa Sastrodarsono adalah priyayi.
Tetapi pada bagian kedua itu Umar Kayam juga menggunakan alur campuran. Alur
mundur ketika menceritakan siapa dan berasal darimana Sastrodarsono dan alur
maju ketika bagaiman lika-liku kehidupan Sastrodarsono hingga ia menjadi
priyayi.
Setelah menceritakan segala tentang Sastrodarsono
dan keluarganya pada bagian kedua, selanjutnya menceritakan bagaimana kisah
hidup masing-masing tokoh dalam novel tersebut. Alur yang digunakan juga sama
yaitu alur campuran. Dengan menggunakan alur campuran seperti itu, maka novel
Para Priyayi ini menjadi lebih hidup. Karena, dengan menceritakan lika-liku
kehidupan semua tokoh yang ada dalam novel tersebut dapat membuat pembaca
merasa mengenal semua tokoh yang ada di dalam novel tersebut.
Novel ini juga merupakan salah satu
novel yang menarik karena alurnya. Banyak novel-novel di Indonesia yang
menggunakan alur campuran semacam itu. Karena alur yang campuran dapat
merangsang pembaca untuk terus mengikuti cerita dalam novel tersebut. Sehingga,
pembaca akan muncul rasa penasaran dengan jalan cerita dalam novel dan akan
terus membaca sampai cerita dalam novel itu selesai dan mengungkap semua rasa
penasaran akan jalan cerita dalam novel tersebut.
Tokoh-tokoh yang ada dalam novel Para
Priyayi ni sangat bermacam-macam dan banyak sekali. Karena sebenarnya makna
dari judul Para Priyayi adalah menceritakan bagaimana kehidupan orang-orang
yang dianggap sebagai priyayi ada saat itu. Sehingga, hampir semua tokoh yang
ada dalam novel tersebut dijabarkan dan djelaskan satu per satu.
Pembagian tokoh ada 3 jenis, berdasarkan
tipe, berdasarkan peran dan berdasarkan watak. Yang selama ini kita tahu
bersama-sama hanyalah berdasarkan peran dan watak saja. Padahal, tokoh-tokoh
dalam sebuah karya sastra khususnya novel itu dapat dibedakan berdasarkan tipe
sifat-sifatnya. Pembagian berdasarkan tipe sifat tokoh ini dibagi menjadi dua
yaitu tipologis dan psikologis. Jika masuk dalam tipologis maka sifat tokoh itu
jika baik akan baik terus, jika buruk akan buruk terus. Seperti tokoh Sunandar
dalam novel Para Priyayi ini, walaupun Sunandar dididik dengan keras oleh
Sastrodarsono, tetapi sifat nya tetap tidak berubah hingga maninggal pun
sifatnya yang buruk dan badung itu tidak berubah. Jika masuik dalam tipe
psikologis, maka sifat tokoh itu berubah-rubah yang sifatnya baik bisa menjadi buruk
dan yang sifatnya buruk bisa menjadi baik. Seperti tokoh Pak Martokebo yang
awalnya baik kepada tetangga-tetangganya berubah menjadi buruk dan menangkap
semua tetangganya yang tidak bersalah, karena terpengaruh oleh PKI yang sedang
merajalela di Wanagalih.
Berdasarkan perannya ada tokoh utama dan
tokoh sampingan atau pembantu. Dalam novel Para Priyayi ini ada banyak tokoh
utama yang diceritakan dalam novel. Yaitu Sastrodarsono, Dik Ngaisah (Istri
Sastrodarsono), Lantip, Hardojo, Noegroho dan Harimurti. Tokoh-tokoh tersebut
yang banyak diceritakan jalan kehidupannya. Tokoh-tokoh tersebut juga banyak
berperan dalam setiap bagiannya, karena mereka adalah priyayi-priyayi yang
dipilih oleh penulis yaitu Umar Kayam untuk menjadi tokoh-tokoh yang dominan
dalam novelnya.
Setelah itu, berdasarkan watak.
Pembagian tokoh berdasarkan wataknya dibagi menjadi dua. Tokoh antagonis dan
tokoh protagonis. Tokoh antagonis adalah tokoh yang berwatak antagonistis yaitu
watak yang selalu menentang tokoh utama. Contoh dalam novel Para Priyayi ini
adalah Sunandar yang tidak pernah mendengarkan dan selalu membuat ulah di
sekolahnya, sehingga ia harus terpaksa ditarik keluar oleh Sastrodarsono.
Setelah ia tak bersekolah lagi, ia diberi tugas untuk menjaga kebun belakang
rumah Sastrodarsono, tetapi wataknya tetap seperti itu. Ketika ia diberi
tanggung jawa oleh Sastrodarsono untuk mengajar di Wanalawas ia malah
menghamili gadis Wanalawas dan mencuri uang tabungan gadis itu dan emboknya.
Tokoh protagonis adalah tokoh yang berwatak baik atau bertolak belakang dengan
watak tokoh antagonis. Banyak sekali tokoh di dalam novel Para priyayi ini yang
berwatak protagonis. Seperti tokoh Lantip yang baik budi pekertinya, ia dapat
memosisikan dirinya sesuai dengan perannya. Ketika ia belum diangkat anak oleh
Hardojo, salah satu anak Sastrodarsono, ia tidak bertindak sombong dan congkak.
Tetapi, ia malah bersikap sopan dan sangat baik, walaupun ia seorang anak dari
Sunandar salah satu tokoh antagonis dalam novel tersebut. Kemudian tokoh
Hardojo yang tidak marah ketika ia dihadapkan sebuah kenyataan bahwa hubungannya
dengan kekasihnya yang bernama Nunuk atau biasa ia panggil dengan sebutan Dik Nunuk
tidak direstui oleh keluarganya karena Nunuk adalah penganut agama Katholik.
Dan masih banyak lagi tokoh-tokoh protagonist yang ada di dalam novel tersebut.
Memang banyak sekali tokoh-tokoh dengan
watak protagonis, karena sebenarnya novel ini mengajarkan bagaimana kita dapat berbuat
baik kepada semua orang. Selain itu, novel Para Priyayi ini juga secara tidak
langsung memberikan sugesti kepada pembacanya bahwa ketika seseorang dalam
posisi jabatan yang tinggi di dalam masyarakat dan dipandang di masyarakat,
hendaknya tidak sombong dan dapat menjadi contoh yang baik untuk keluarga,
saudara dan para tetangganya.
Seperti yang telah disebutkan di atas
bahwa sang penulis yaitu Umar Kayam menggunakan latar ibukota kabupaten yaitu
Wanagalih dan daerah-daerah di sekitar Wanagalih. Seperti, Desa Wanalawas, Desa
Kedungsimo, Desa Jogorogo. Selain itu dalam novel in juga disebutkan berbagai
latar tempat dimana tokoh-tokoh itu berada dan bekerja. Seperti pada bagian
Hardojo yang mengajar di sekolah HIS di Wonogiri dan temat Nunuk bekerja yaitu
di sekolah HIS di Solo. Pada bagian Noegroho dimana ia bekerja mengajar sebagai
guru di Sekolah Rakyat Sempurna di Jetis, Yogyakarta dan di Bantul, Yogyakarta
ketika Noegroho menjadi daidan atau
menjadi opsir Peta pada zaman Jepang itu.
Selain latar tempat, ada latar suasana
yang terlihat secara jelas dalam novel Para Priyayi ini. Latar suasana yang
digunakan Umar Kayam sangat beragam. Mulai dari suasana ketika zaman penjajahan
Belanda yang dibuktikan dengan kosakata-kosakata bahasa Belanda dan
sebutan-sebutan yang digunakan pada saat itu seperti gupermen, School Opziener, dan yang lainnya. Umar
Kayam juga menuliskan dengan jelas ketika Indonesia berada dalam masa
penjajahan Jepang. Hal itu dapat dibuktikan dengan penggunaan banyak kosakata-kosakata
dalam bahasa Jepang seperti, Kyoren,
daidan, chudancho, bushido dan yang lainnya. Tidak hanya itu, pada masa maraknya PKI dan
Lekra pun digambarkan dengan jelas. Contohnya ketika Umar Kayam menuliskan
bagaimana hukuman-hukuman mati yang disaksikan oleh Lantip di alun-alun
Wanagalih. Di situ digambarkan dengan jelas bagaimana proses hukuman itu dari
yang ditembak mati, disiksa bahkan sampai yang dipenggal kepalanya. Suasana itu
nampak jelas ketika eksekusi Pak Haji Mansyur yang ditembak mati karena ia
adalah salah satu tokoh agama. Pada masa PKI telah selesai, masa
pembersihan-pembersihan terhadap pangikut-pengikut PKI pun nampak jelas sekali,
ketika pada bagian Harimurti, anak Hardojo yang aktif di organisasi Lekra yang
dianggap sebagai bagian dari PKi. Sehingga, Harimurti harus diserahkan kepada
tentara untuk diamankan.
Setelah kita membahas aspek-aspek yang
menarik dalam novel Umar Kayam ini semakin jelas bahwa sebuah karya sastra itu
harus memiliki unsure intrinsik dan ekstrinsik yang padu agar karya sastra itu
lebih menarik minat pembaca. Selain itu, dalam novel Para Priyayi ini Umar
Kayam menunjukkan bahwa alur campuran yang ia gunakan, tokoh-tokoh yang terlibat
di dalamnya, dari peran, watak dan tipe sifat dapat dipahami dengan mudah jika
dilihat dari keseluruhan isi dalam novel tersebut. Dibalik presepsi pembaca
ketika membaca awal cerita yang mungkin menganggap tidak jelas terdapat hal-hal
yang menarik di dalamnya. Seperti yang telah disebutkan di atas, hampir semua aspek
digunakan oleh Umar Kayam sehingga menghasilkan sebuah novel dengan isi yang
padu, jalan cerita yang menarik dan penggambaran suasana yang sangat jelas.
Sehingga, novel ini dapat menghipnotis pembaca agar tidak meninggalkan begitu
saja dan membacanya sampai bagian akhir novel tersebut.