Sastra adalah pengetahuan puitik atau naratif. Pengetahuan
ini dibungkus dengan simbol-simbol atau lambang-lambang, sehingga maknanya
disampaikan secara tidak langsung atau makna kiasan. Sastra yang tertua adalah
sastra yang bergenre puisi atau puitik. Dapat dibuktikan dengan adanya karya
sastra yang berjudul “The Epic of Gillgamesh” berbentuk puisi yang berisikan
doa-doa masyarakat Sumeria yang diciptakan 30.000 tahun yang lalu.
Jika kita berbicara mengenai puisi yang pasti identik dengan
seorang penyair. Semua negara pasti memiliki penyair legendaries di negaranya
masing-masing, tidak terkecuali di Indonesia. Indonesia memiliki banyak sekali
sastrawan-sastrawan yang mendunia dan juga penyair -penyair yang hebat. Paduan
kata yang ada di dalam puisi mereka pun sangat padu dan terangkai dengan indah.
Masih ingatkah kita dengan seorang penyair muda legendaris
yang meninggal dunia di usia muda ? masih ingatkah kita dengan karya-karyanya
yang menggebu-gebu yang membakar semangat pemuda untuk melawan penjajah ? dan
masih ingatkah salah satu karyanya yang berjudul Karawang-Bekasi yang sajak-sajaknya
sangat indah ?
Untuk menjawab semua pertanyaan itu,
mari kita menoleh ke belakang dan menganalisa salah satu karya seorang penyair
muda yang memiliki semangat yang menggebu-gebu dengan menggunakan salah satu
teori sastra yaitu Teori Formal (Formalisme) yang memiliki pandangan bahwa
karya sastra itu dikaji unsure intrinsik (isi) dan ekstrinsik (bentuk) nya. Chairil
Anwar adalah penyair muda yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan bentuk
dan isi perpuisian Indonesia modern. Ia menampilkan puisi yang bebas dan tajam
dengan kemampuan memilih kata yang padu.
Puisi yang berjudul Krawang-Bekasi karya Chairil Anwar ini
adalah salah satu puisi perjuangan yang diciptakan pada zaman kemerdekaan.
Puisi karya Chairil Anwar adalah puisi modern yang terpengaruh oleh gaya-gaya
Eropa. Dengan tujuan agar karya-karya sastra Indonesia dapat diakui oleh dunia.
Chairil Anwar adalah salah satu penyair yang menganut aliran ekspresionisme
yaitu aliran yang menggambarkan letupan jiwa yang meluap-luap. Dalam puisinya
ia menggambarkan bagaimana keadaan di perbatasan antara Krawang-Bekasi,
sehingga ia lebih memilih dua nama daerah itu sebagai judul puisinya. Dengan
judul tersebut lebih menekankan bahwa puisi Krawang-Bekasi ini adalah hasil
letupan semangat Chairil yang menganut aliran ekspresionisme dengan hasil
karyanya yang bersifat realisme-sosial yang banyak menyatakan tentang
pemberontakan terhadap penjajahan dan penindasan kaum penjajah.
Pada bait awal :
Kami yang
kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?
tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?
Disini
Chairil Anwar menggunakan kata kami tidak
menggunakan kata aku lagi seperti di
puisinya yang berjudul “AKU”. Karena, kata kami
lebih tepat untuk mewakili para pejuang-pejuang kemerdekaan yang jumlahnya
tidak hanya satu, tetapi ratusan bahkan ribuan. Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi.//tidak bisa teriak
"Merdeka" dan angkat senjata lagi.// pada rangkaian baris ini kata-kata
yang digunakan sangat padu dan lugas. Baris Kami
yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi, menyatakan perjuangan
pemuda-pemuda di kawasan perbatasan. Ia menggunakan kata terbaring bukan gugur karena kata
terbaring merupakan kata yang
mewakili bahwa sebenarnya mereka masih berjuang walaupun telah dilemahkan oleh
penjajah. Dan pada baris tidak bisa
teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi ini menggambarkan betapa
mirisnya keadaan para pejuang yang berjuang di kawasan perbatasan. Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru
kami, yang dimaksud dengan deru bukanlah
tiruan bunyi angin maupun mobil, tetapi ia mengibaratkan suara-suara para
pejuang yang semangat membela tanah air yang mungkin lebih keras dibandingkan
tiruan bunyi angin maupun mobil. Dan nampak pada bait tersebut disusun secara
rapi dengan akhiran bunyi yang sama yaitu pada kata Krawang-Bekasi, lagi, kami dan hati.
Ia juga menggunakan repetisi yang baik dan tersusun secara
baik dan padu. Ini terlihat pada bait :
Kenang,
kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir
Pada
bait ini menggambarkan semangat Chairil Anwar agar generasi muda selanjutnya
meneruskan perjuangan para pahlawan kemerdekaan. Kenang, kenanglah kami // Teruskan, teruskan jiwa kami , baris ini menggambarkan bahwa semangat Chairil Anwar
sangat besar untuk memperjuangkan kemerdekaan dan menaruh harapan agar generasi
muda selanjutnya dapat meneruskan perjuangan pahlawan kemerdekaan. Menjaga Bung Karno // menjaga Bung Hatta // menjaga
Bung Sjahrir , ia memilih menggunakan tokoh-tokoh itu karena tokoh-tokoh
tersebut yang dapat mewakili semua tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan. Kata Menjaga adalah makna kiasan karena yang
dimaksud Menjaga adalah bukan makna
sebenarnya dari Menjaga, melainkan
sebuah ungkapan bahwa perjuangan-perjuangan tokoh-tokoh kemerdekaan itu harus
dijaga, agar Indonesia semakin maju di masa depan. Pada bait tersebut juga ia
susun dengan padu dan rapi dengan akhiran bunyi yang sama pada baris pertama
dan kedua yang berakhiran dengan kata kami.
Puisi Krawang-Bekasi ini termasuk
dalam puisi Indonesia Modern yang tidak terikat dengan aturan-aturan tertentu.
Terlihat pada bait-bait :
Kami sudah
coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
Kami cuma
tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Kenang,
kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir
pada
bait-bait tersebut sudah jelas bahwa puisi Krawang-Bekasi ini tidak terikat
dengan aturan-aturan yang ada dalam puisi lama. Salah satu contoh puisi lama seperti
pantun, contoh pantun :
Sungguh elok asam belimbing
Tumbuh
dekat limau lungga
Sungguh
elok berbibir sumbing
Walau marah
tertawa juga
pada
pantun seperti di atas jelas ada aturan yang mengikatnya yaitu satu bait
terdiri dari empat baris. Kemudian pada pantun terikat dengan sajak ab-ab
(belimbing/sumbing=a dan lungga/juga=b). Pada puisi Krawang-Bekasi kita tidak
melihat itu. Seperti pada bait kedua :
Kami
bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.
Pada
bait ini sajak yang digunakan tidak seperti pada pantun, tetapi lebih bebas dan
tidak harus bersajak ab-ab pada kata akhir setiap baris. Pada pantun tersebut
juga setiap baris terdiri dari 4 kata atau paling tidak terdiri dari 8-12 suku
kata. Pada baris pertama sampai keempat pantun tersebut masing-masing baris
terdiri dari 4 kata saja, sedangkan pada puisi Krawang-Bekasi terlihat lebih
bebas dengan jumlah kata setiap barisnya yang tidak hanya terdiri dari 4 kata
tetapi lebih banyak dari 4 kata, bahkan pada baris Kami
bicara padamu dalam hening di malam sepi terdiri dari 8 kata.
Selain itu, jika dilihat dari segi
isinya, pantun harus terdiri dari 4 baris seperti yang diungkapkan di atas yang
susunannya terdiri dari 2 baris sampiran dan 2 bari isi. Sedangkan puisi
Krawang-Bekasi ini bahasanya lebih padat dan semua merupakan isi.
Dalam puisi Krawang-Bekasi ini
banyak diungkapkan oleh Chairil Anwar dengan rangkaian kata-kata yang bermajas
agar lebih menarik tetapi tetap memperlihatkan semangat yang menggebu-gebu. Majas-majas
yang digunakan antara lain adalah majas repetisi, litotes dan personifikasi.
Majas repetisi dapat kita lihat pada bait :
Kenang,
kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir.
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir.
Majas
litotes pada bait :
Kami cuma
tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan.
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan.
Majas
personifikasi pada baris Jika dada rasa
hampa dan jam dinding yang berdetak .
Dengan adanya puisi-puisi karya
Chairil Anwar yang bebas dan tajam ini, maka sejak saat itu puisi Indonesia
Modern mulai berkembang pesat. Dan chairil anwar termasuk dalam salah satu sastrawan
muda yang legendaris karena karya-karyanya yang mampu menggugah semangat
nasionalisme para pemuda pada saat itu. Ia juga memberikan nuansa baru pada
goresan-goresan pena sastrawan Indonesia .
Maka dari itu, apabila kita melihat
dan menilai sebuah karya sastra itu, jangan dilihat dari segi pengarang saja,
tetapi juga dilihat dari segi isi dan penggunaan bahasa dan ketepatan
pemilihan-pemilihan kata nya yang padu. Dan bagaimana pula penyampaian yang
dilakukan oleh penulis. Seperti Chairil anwar, ia adalah salah seorang
sastrawan yang meninggal di usia muda dengan penyakit nya yang disebabkan oleh
kebiasaannya bermain perempuan. Tetapi, walaupun dia meninggal di usia muda,
karya-karyanya tetap dikenang bahkan masih dikenal dan terkenal sampai pada
masa sekarang ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar