Senja tetaplah senja yang selalu menjadi indah, ia tak bisa menjadi lain karena ia tetaplah senja dengan rona kemerah-merahannya. Seseorang tak akan dikenang jika ia tak memiliki alat pengenang, karya adalah salah satu jalan agar kita bisa dikenang. Selamat bersastra, Selamat berkarya.
Selasa, 19 November 2013
Ketika Burung Merpati Sore Melayang
karya Taufiq Ismail
Langit akhlak telah roboh di atas negeri
Karena akhlak roboh, hukum tak tegak berdiri
Karena hukum tak tegak, semua jadi begini
Negeriku sesak adegan tipu-menipu
Bergerak ke kiri, dengan maling kebentur aku
Bergerak ke kanan, dengan perampok ketabrak aku
Bergerak ke belakang, dengan pencopet kesandung aku
Bergerak ke depan, dengan penipu ketanggor aku
Bergerak ke atas, di kaki pemeras tergilas aku
Kapal laut bertenggelaman, kapal udara berjatuhan
Gempa bumi, banjir, tanah longsor dan orang kelaparan
Kemarau panjang, kebakaran hutan berbulan-bulan
Jutaan hektar jadi jerebu abu-abu berkepulan
Bumiku demam berat, menggigilkan air lautan
Beribu pencari nafkah dengan kapal dipulangkan
Penyakit kelamin meruyak tak tersembuhkan
Penyakit nyamuk membunuh bagai ejekan
Berjuta belalang menyerang lahan pertanian
Bumiku demam berat, menggigilkan air lautan
Lalu berceceran darah, berkepulan asap dan berkobaran api
Empat syuhada melesat ke langit dari bumi Trisakti
Gemuruh langkah, simaklah, di seluruh negeri
Beribu bangunan roboh, dijarah dalam huru-hara ini
Dengar jeritan beratus orang berlarian dikunyah api
Mereka hangus-arang, siapa dapat mengenal lagi
Bumiku sakit berat, dengarlah angin menangis sendiri
Kukenangkan tahun ‘47 lama aku jalan di Ambarawa dan Salatiga
Balik kujalani Clash I di Jawa, Clash II di Bukittinggi
Kuingat-ingat pemboman Sekutu dan Belanda seantero negeri
Seluruh korban empat tahun revolusi
Dengan Mei ‘98 jauh beda, jauh kalah ngeri
Aku termangu mengenang ini
Bumiku sakit berat, dengarlah angin menangis sendiri
Ada burung merpati sore melayang
Adakah desingnya kau dengar sekarang
Ke daun telingaku, jari Tuhan memberi jentikan
Ke ulu hatiku, ngilu tertikam cobaan
Di aorta jantungku, musibah bersimbah darah
Di cabang tangkai paru-paruku, kutuk mencekik nafasku
Tapi apakah sah sudah, ini murkaMu?
Ada burung merpati sore melayang
Adakah desingnya kau dengar sekarang
1998
Selasa, 18 Juni 2013
Topeng
kau simpan itu dibalik batu yang cadas
kau lakukan itu ketika aku terlelap dalam buaian
jujur aku muak dengan semua ini !
kau tahu ingin ku hempaskan rasa muak ini agar aku bisa tenang
tapi, kau tetap saja begitu
kau, dia dan mereka sama saja
lepas topeng kalian di depan muka ku
lepaskan raut senyum kalian yang mengguncang hatiku
aku ingin keluar dari belenggu kemuakan ini
tapi, aku tak bisa karena aku tetap ingin berjuang di jalanNya
kenapa harus ada kalian ?
kalian yang selalu membuatku kesal dalam celah puing-puing keikhlasanku kepadaNya
Astaughfirullah.... ampuni kesalahan hamba dan mereka Ya Rabb...
kau lakukan itu ketika aku terlelap dalam buaian
jujur aku muak dengan semua ini !
kau tahu ingin ku hempaskan rasa muak ini agar aku bisa tenang
tapi, kau tetap saja begitu
kau, dia dan mereka sama saja
lepas topeng kalian di depan muka ku
lepaskan raut senyum kalian yang mengguncang hatiku
aku ingin keluar dari belenggu kemuakan ini
tapi, aku tak bisa karena aku tetap ingin berjuang di jalanNya
kenapa harus ada kalian ?
kalian yang selalu membuatku kesal dalam celah puing-puing keikhlasanku kepadaNya
Astaughfirullah.... ampuni kesalahan hamba dan mereka Ya Rabb...
Selasa, 14 Mei 2013
Sinpopsis Perempuan di Titik Nol
Judul :
Perempuan di Titik Nol
Pengarang : Nawal el-Saadawi
Penerbit : Yayasan Obor Indonesia
Tahun terbit : 1989
Tebal buku : 177 halaman
Sinopsis :
Firdaus adalah seorang perempuan
yang dipenjara dan divonis hukuman mati. Ia tidak pernah berbicara dengan
siapapun, bahkan dengan sipir penjara sekalipun. Ia selalu meludahi setiap
surat kabar yang terdapat gambar seorang pejabat laki-laki atau siapapun
laki-laki yang ada di surat kabar tersebut. Banyak yang menduga ia mengenal
semua laki-laki itu secara pribadi. Tetapi, ia sebenarnya tidak mengenal mereka
semua yang ada di gambar surat kabar tersebut.
Kehidupan Firdaus sangatlah keras.
Sejak ia anak-anak ia harus bertahan hidup menahan lapar, hanya dia yang hidup
diantara banyak adik-adiknya. Menurutnya, adik-adiknya meninggal seperti anak
ayam, meninggal satu per satu seperti anak ayam. Dan setiap ia harus bekerja ke
ladang dengan membawa pupuk di atas kepalanya atau membuat adonan kue. Pernah
suatu kali ia menanyakan kepada ibunya bagaimana bias ia terlahir tanpa ayah,
karena dipandangannya semua wajah laki-laki mirip dengan ayahnya. Maka, ibunya
memarahinya dan memukulknya, bahkan ibunya membawa seorang perempuan yang
membawa sebilah pisau untuk memotong secuil daging pada bagian diantara
pahanya.
Firdaus senang ketika ia disuruh
untuk ke ladang dengan membawa pupuk di atas kepalanya. Karena, ia lebih senang
berada di ladang daripada diam di rumah. Di ladang ia bias bermain-main dengan
kambing menaiki kincir air dan berenang bersama anak laki-laki di sungai. Ia
juga bias dikatakan memiliki teman dekat laki-laki bernama Mohammadain.
Mohammadain selalu mengajaknya bermain pengantin laki-laki dan pengantin
perempuan. Pada saat itu, Firdaus kecil tidak mengerti apa yang dilakukan
Mohammadain terhadapnya, sehingga ia hanya merasakan nikmat yang ia tak tahu di
bagian mana rasa itu timbul. Mereka akan bermainsampai matahari terbenam ketika
ayah Mohammadain memanggilnya dan Mohammadain berjanji akan kembali keesokan
harinya. Tetapi, ibunya tidak pernah menyuruhnya ke ladang lagi.
Firdaus memiliki seorang paman yang
sangat baik kepadanya. Tidak pernah memukulnya seperti ayah dan ibunya.
Pamannya adalah mahasiswa El-Azhar di Kairo. Ia pulang ke rumah Firdaus ketika
masa liburan. Bahkan ketika orang tua Firdaus meninggal, pamannya lah yang
membawanya ke kairo untuk tinggal bersamanya dan disekolahkan oleh pamannya.
Ketika paman Firdaus sudah menikah, ia sering memukuli Firdaus dan memutuskan
untuk memasukkannya ke dalam sekolah asrama yang memiliki asrama. Firdaus pun
tinggal di asrama dan memiliki teman bernama Wafeya yang selalu menjadi teman
untuk bercerita. Dan ia juga mengenal nona Iqbal yang sangat baik kepadanya.
Bahkan yang mendampingi Firdaus ketika mendapatkan nilai terbaik pun nona Iqbal
bukan pamannya.
Setelah Firdaus tamat sekolah
menengah, ia kembali ke rumah pamannya. Istri pamannya tidak menghendaki ia
tinggal bersama mereka, sehingga mereka memutuskan untuk menikahkan Firdaus
dengan Syekh Mahmoud, seorang saudagar yang usianya sudah mencapai enam puluh
tahun. Malang nasib Firdaus, ia harus menerima nasibnya untuk tinggal bersama
duda tua yang memiliki bisul di bagian muka dan bibirnya yeng menimbulkan bau
tidak sedap. Syekh Mahmoud tidak segan-segan untuk memukul Firdaus jika ia
tidak menghabiskan makanannya sampai tidak ada sisa di piringnya dan
memukulinya dengan tongkat ketika ia pergi ke rumah pamannya hingga keluar
darah dari mulut dan hidungnya. Akhirnya Firdaus pun pergi meninggalkan rumah
Syekh Mahmoud.
Ketika Firdaus berhenti di sebuah
warung kopi, ia ditolong oleh pemilik watung itu yang bernama Bayoumi, yang
membolehkan ia tinggal di flat miliknya dan akan dicarikan pekerjaan. Hingga
suatu hari, Bayoumi dating dengan teman-temannya dan memukuli Firdaus serta
memperkosanya. Dan Firdaus pun melarikan diri dari tempat Bayoumi itu.
Firdaus berjalan sampai pagi, hingga
ia tertidur di sebuah bangku yang menghadap ke Sungai Nil. Ia didatangi oleh
sosok perempuan yang bernama Sharifa. Sharifa mengajaknya ke sebuah apartemen,
di sana Firdaus dirubah dengan didandani oleh Sharifa sehingga terlihat sangat
cantik. Sharifa mendandani Firdaus seperti itu karena Sharifa mempekerjakan
Firdaus untuk menjadi seorang pelacur. Setiap malam ada saja laki-laki yang
datang ke apartemen Firdaus dan dilayani oleh Firdaus. Hingga, suatu hari ia
mendengar Sharifa sedang adu mulut dengan seorang laki-laki yang bernama Fawzi.
Fawzi bermaksud akan membawa dan menikahi Firdaus, tetapi Sharifa menolaknya.
Hingga mereka terdengar sedang berkelahi. Tetapi, kemudian suara mereka
menghilang dan hanya tinggal desah nafas mereka. Firdaus berjalan pelan-pelan
untuk melihat mereka dan yang ia lihat Sharifa sedang tidur dengan Fawzi tanpa
menggunakan sehelai baju. Firdaus pergi dari tempat Sharifa.
Setelah itu, dengan ijazah sekolah menengah
yang ia punya, Firdaus melamar pekerjaan di sebuah perusahaan. Ia diterima
sebagai seorang kaeyawan yang bergaji kecil. Tetapi, ia mampu menyewa sebuah
flat untuk tempatnya tinggal. Di perusahaan itu ia mengenal Ibrahim, mereka
menjalin hubungan dekat bahkan sangat dekat, hingga Firdaus merasa dirinya
telah jatuh cinta kepada Ibrahim. Tetapi, ia merasa hancur ketika ia mendengar
bahwa Ibrahim telah bertunangan dengan anak perempuan seorang direktur. Firdaus
semakin membenci laki-laki. Ia merasa dipermainkan dan ia memutuskan untuk
keluar dari perusahaan tersebut.
Firdaus kembali bekerja sebagai
pelacur, pelacur kelas atas tepatnya. Karena, ia tak mau dibayar dengan harga
murah, ia selalu meminta upah yang tinggi. Karena ia kembali bkerja sebagai pelacur,
ia mempunyai sebuah apartemen mewah, sebagai tempat tinggalnya dan tempat untuk
bekerja. hingga suatu hari ada seorang germo mendatanginya dan memaksa Firdaus
untuk ikut dengannya dan bekerja dengannya. Firdaus menolak dan membuat
laki-laki germo itu naik pitam dan mengeluarkan sebuah pisau untuk membunuh
Firdaus, tetapi Firdaus berhasil merebut pisau itu dan menikam leher germo itu
berulang kali. Dan kemudian ia pergi. Di tengah jalan ia bertemu dengan seorang
pangeran yang mau membayarnya mahal, dan Firdaus mengatakan bahwa ia telah
mebunuh seorang laki-laki dan akan membunuh setiap laki-laki. Pangeran itu
ketakutan dan lari sambil melaporkannya kepada polisi. Firdaus pun ditangkap
dan divonis hukuman mati akrena ia dianggap sebagai pembunuh yang gila. Firdaus
menolak ketika diminta untuk mengajukan grasi kepada presiden, karena ia
beranggapan bahwa dengan vonis hukuman mati adalah jalan terbaik untuk bebas
dari laki-laki.
Analisis :
Buku ini adalah salah satu novel bergaya Feminisme.
Dimana penulis menceritakan bagaimana seorang perempuan seperti Firdaus
bertahan hidup dengan dunianya yang sangat kejam. Perlakuan terhadap kaum perempuan
yang tidak manusiawi sangat jelas terlihat dalam novel ini. Novel ini
menjelaskan bagaimana perlakuan laki-laki terhadap perempuan yang tidak
semestinya. Dan menuntut adanya persamaan gender. Penulis menggambarkan tokoh
Firdaus sebagai tokoh yang sangat menentang adanya kaum laki-laki. Ia
menganggap bahwa laki-laki hanyalah memperbudak perempuan. Menjadi seorang
istri juga dianggap rendah di dalam novel ini, karena kewajiban seorang istri
melayani suami dan mengurusi rumah tangga dilaksanakan tanpa upah sedikitpun.
Dalam novel ini juga menggambarkan bagaimana seorang istri hanya dimanfaatkan
dan diperbudak oleh suaminya. Jika istri melakukan kesalahan maka seorang suami
tidak segan untuk memukul istrinya.
Menurut saya, novel ini sangat bagus untuk kalangan
laki-laki maupun perempuan. Karena banyak sekali pelajaran yang dapat diambil
dari novel ini. Bagaimana perjuangan seorang perempuan untuk mendapatkan haknya
dan bagaimana perlakuan yang seharusnya tidak diberikan kepada perempuan
diberikan oleh laki-laki. Untuk kaum laki-laki, novel ini memberikan gambaran
bagaimana perasaan perempuan jika disakiti hati dan fisiknya. Begitulah
gambaran yang perasaan perempuan yang diperlakukan kasar oleh laki-laki jelas
terlihat dalam tokoh Firdaus. Untuk kaum perempuan, perjalanan hidup Firdaus
adalah sebuah potret kecil bagaimana harga diri perempuan yang terinjak-injak. Sehingga,
perempuan lebih bias menjaga diri dan kelakuannya agar diakui dan disamakan
gendernya dengan laki-laki, agar kaum laki-laki tidak semaunya sendiri
memperlakukan perempuan.
Rabu, 13 Februari 2013
Sinopsis Buku Louis Pasteur “Penemu Serum”
Judul : Louis Pasteur “Penemu Serum”
Penulis : Dian Ansorie
Penerbit : PenerbitDjambatan
Tahunterbit : 1976
Tebal buku : 30 halaman
Sinopsis :
Louis
Pasteur adalah anak dari Jean Pasteur, seorang penyamak kulit yang pindah dari
desa kecil Dole, wilayah Bourgondia, di kaki pegunungan Jura, Prancis ke kota
Arbois, Prancis. Louis adalah anak yang pandai sejak kecil disekolahnya,
walaupun ia sering dihukum oleh gurunya karena sering kedapatan tidak menyimak.
Tetapi, ia sangat menggemari satu pelajaran yaitu menggambar.
Ketika
Louis menempuh jenjang perguruan tinggi di Paris, dia terdaftar sebagai
mahasiswa ilmu alam dan kimia. Sebagai mahasiswa yang rajin, tekun dan penuh
semangat, ia mendapat perhatian dari dosen-dosennya. Sehingga dari tahun ke
tahun dia selalu naik tingkat dengan angka-angka yang gemilang.
Setelah
menamatkan sekolahnya, dia diangkat menjadi asisten salah seorang profesor yang
mengagumi kepandaian dan keuletannya. Dia dikenal sebagai sarjana yang paling
tahan duduk di laboratorium. Setelah memberikan kuliah, dia selalu menyibukkan
diri di laboratorium. Berkat keuletannya melakukan percobaan dan penelitian, dia
berhasil dalam berbagai penelitian. Salah satu hasil penelitiannya yang dikenal
oleh masyarakat adalah debu sebagai bakteri yang dapat membuat susu menjadi
masam dan anggur menjadi kecut.
Profesor
itu semakin percaya dengan kemampuan Louis. Dia ditarik untuk memberi kuliah
pada mahasiswa ilmu alam dan kimia di Strassburg dan Dijon. Di Strassburg dia
berkenalan dengan Marie Laurent, anak dari direktur utama universitas tersebut,
lalu dia menikahi Marie. Marie selalu membantu dia, karena Marie memposisikan
diri sebagai istri seorang ilmuan dan ibu dari lima orang anak, sehingga Marie
tidak dapat dipisahkan dari kehidupan Louis.
Louis
mulai masuk didunia kedokteran dengan mengemukakan pendapat bahwa proses yang
menyebabkan manusia menjadi sakit tidak berbeda dengan proses menjadi masamnya
anggur dan susu. Dan pendapat itu ditentang oleh semua pihak. Dia dianggap
sinting dan dituduh anti Tuhan. Dia mengatakan bahwa dokter lah yang menularkan
penyakit pada pasiennya dengan pakaian yang dikenakannya setelah membedah
pasien, digunakan untuk menangani pasien yang lain dan alat-alat kedokteran
yang tidak pernah dicuci bersih setelah digunakan untuk membedah pasien.
Tetapi, pendapatnya itu menuai banyak pertentangan, bahkan dia selalu dihina
dan dicemooh oleh masyarakat dan dianggap sebagai sarjana kimia sinting yang
ingin diakui oleh dunia kedokteran. Ketik dia berhasil membunuh bakteri-bakteri
yang membuat anggur menjadi masam dengan cara pemanasan, ada beberapa dokter
yang tertarik kepada pensucihamaan yang dilakukan oleh Louis. Saat ini
pensucihamaan lebih dikenal dengan sterilisasi dalam istilah kedokteran.
Walaupun
setiap hasil percobaan yang dilakukan Louis selalu mendapat penghinaan dunia
kedokteran, namun dia tak pernah bosan untuk meneruskan penelitiannya. Semua
yang dikerjakannya adalah untuk dunia kedokteran. Pembuatan serum, yaitu
bakteri-bakteri yang telah dilemahkan, terus ditingkatkan. Dia sering datang ke
rumah sakit untuk mempelajari berbagai penyakit. Hasil penyelidikannya
mengantarkan dia kepada pembuatan serum pencegahan. Tetapi, usahanya tetap saja
dicemoohkan oleh dunia kedokteran. Ketika ada seseorang yang membawa anjing gila
ke laboratoriumnya. Dia meneliti bakteri-bakteri penyakit dalam tubuh anjing
tersebut, lalu dikembangkannya dalam otak kelinci dan binatang-binatang lain.
Setelah mengalami proses yang panjang dan melakukan percobaan yang sangat
teliti, akhirnya dia menemukan serum rabies, yaitu bakteri anjing gila yang
sudah dilemahkan. Tetapi, dia hanya menggunakan serum itu untuk binatang dan
menunngu saaatnya tiba digunakan untuk manusia.
Pada
suatu ketika dia didatangi oleh dua orang dokter dan seorang wanita. Dua dokter
kenalan Louis itu meminta tolong agar dia menolong anak wanita itu dengan serum
rabiesnya karena anaknya telah digigit anjing gila. Awalnya dia ragu, tetapi
akhirnya ia melakukan juga. Tindakannya ini dikecam oleh dunia kedokteran dari
seluruh dunia. Tetapi, setelah mendengar kabar bahwa anak wanita itu sembuh
dengan serum rabies Louis itu, para dokter yang protes itu tidak dapat berbuat
apa-apa. Akhirnya Louis Patsteur dikenal oleh masyarakat dunia dan banyak
sekali pesanan serum buatannya itu, tetapi dia tidak mempunyai modal yang cukup
untuk membuatnya. Sehingga banyak dermawan dan hartawan yang membantunya untuk
modal membuat serum itu.Dia telah sukses dengan serumnya dan memiliki laboratorium
yang cukup besar yang berkembang menjadi Institut Pasteur. Louis Pasteur
diangkat sebagai tokoh pembaharu dunia kedokteran. Tetapi, pada pengangkatannya
itu dia tidak dapat hadir karena sedang sakit parah. Ia meninggal dengan tangan
kirinya memeluk istrinya, Marie Laurent dan tangan kanannya memegang kitab
suci.
Sinopsis Buku Otobiografi Go Tik Swan Hardjonagoro “JAWA SEJATI”
Judul : Otobiografi Go Tik Swan
Hardjonagoro “JAWA SEJATI”
Pengarang : Rustopo
Penerbit : Penerbit Ombak bekerjasama dengan Yayasan Nabil Jakarta
Tahun terbit : 2008
Tebal buku : xxiii + 352 halaman
Sinopsis :
Go Tik Swan lahir pada hari Selasa
Kliwon, 11 Mei 1931 di Surakarta. Sebelum pemerintah mengeluarkan peraturan
tentang pemakaian nama Indonesia untuk warga keturunan Tionghoa, ia sudah
menambahkan nama (Jawa) Hardjono didepan nama pemberian orang tuanya. Ia adalah
putra sulung dari empat bersaudara dari pasangan Go Dhiam Ik dan Tjang Ging
Nio.
Go Tik Swan diambil oleh
kakek-neneknya untuk tinggal bersama mereka di Kota Solo. Lingkungan ia tinggal
inilah yang membentuk kepribadiannya. Di tempat pembatikan kakeknya setiap hari
selalu terdengar lantunan tembang-tembang macapat yang dibawakan oleh ibu-ibu
pembatik. Tetangganya, dua orang seniman dan budayawan yaitu Hadiwijaya dan
Prabuwinata, rumahnya terbuka bagi Go Tik Swan untuk latihan tari dan gamelan.
Setiap ada pertunjukan di klenteng dekat rumahnya, ia selalu menonton semalam
suntuk.
Ketika ia melanjutkan pendidikannya
ke jenjang perguruan tinggi, ia mengambil jurusan Bahasa dan Sastra Jawa, yang
membuat kedua orang tuanya marah dan membiarkan ia hidup sendiri dengan tidak
membiayai kuliah dan hidupnya di Jakarta.
Go Tik Swan menunjukkan perannya,
tidak hanya sebagai penikmat dan penonton, tetapi juga menjadi pelaku aktif
untuk senantiasa menciptakan karya-karya seni baru tanpa mengubah nilai-nilai
tradisionalnya. Ia juga mengabdi di kraton Surakarta dan membantu mengurus
Museum Art Gallery milik kraton. Pengabdiannya itu membuat ia diangkat menjadi
Bupati Anom dengan gelar Raden
Tumenggung. Kemudian menjadi Bupati dengan gelar Kangjeng Raden Tumenggung,
pangkat berikutnya adalah Bupati Riyo Nginggil dengan gelar Kangjeng Raden
Hariyo Tumenggung. Gelar pangeran juga disandangnya yaitu Kangjeng Pangeran
Tumenggung dan Kangjeng Pangeran Aryo.
Dengan segala penghargaan yang ia
dapatkan dan kecintaannya terhadap kebudayaan Jawa, ia tidak serta merta
mengubah namanya hanya nama Jawa. Tetapi, ia juga tetap menggunakan nama
pemberian orang tuanya yaitu Go Tik Swan. Karena, ia menganggap bahwa nama
pemberian orabg tuanya itu harus dihormati dengan arti bahwa ia tidak melupakan
bahwa dirinya adalah warga Indonesia keturunan Tionghoa. Selain itu, ia juga
menjadi seorang muslim, hal itu dapat dibuktikan ketika ia mengadakan
upacara-upacara adat Jawa, ia tetap menggunakan doa-doa secara Islam, sesuai
agama yang dianutnya.
Kehidupan keluarganya tidak semulus pengabdiannya. Ia pernah menikah dan
bercerai ketika usia pernikahannya berusia lima tahun. Sehingga, ia mengangkat
abdi nya yang bernama Hardjosoewarno dan istrinya Supiyah menjadi adik dan
mengangkat empat dari enam anak mereka yang akan menjadi ahli waris nya ketika
ia meninggal kelak.
Langganan:
Komentar (Atom)