Judul : Otobiografi Go Tik Swan
Hardjonagoro “JAWA SEJATI”
Pengarang : Rustopo
Penerbit : Penerbit Ombak bekerjasama dengan Yayasan Nabil Jakarta
Tahun terbit : 2008
Tebal buku : xxiii + 352 halaman
Sinopsis :
Go Tik Swan lahir pada hari Selasa
Kliwon, 11 Mei 1931 di Surakarta. Sebelum pemerintah mengeluarkan peraturan
tentang pemakaian nama Indonesia untuk warga keturunan Tionghoa, ia sudah
menambahkan nama (Jawa) Hardjono didepan nama pemberian orang tuanya. Ia adalah
putra sulung dari empat bersaudara dari pasangan Go Dhiam Ik dan Tjang Ging
Nio.
Go Tik Swan diambil oleh
kakek-neneknya untuk tinggal bersama mereka di Kota Solo. Lingkungan ia tinggal
inilah yang membentuk kepribadiannya. Di tempat pembatikan kakeknya setiap hari
selalu terdengar lantunan tembang-tembang macapat yang dibawakan oleh ibu-ibu
pembatik. Tetangganya, dua orang seniman dan budayawan yaitu Hadiwijaya dan
Prabuwinata, rumahnya terbuka bagi Go Tik Swan untuk latihan tari dan gamelan.
Setiap ada pertunjukan di klenteng dekat rumahnya, ia selalu menonton semalam
suntuk.
Ketika ia melanjutkan pendidikannya
ke jenjang perguruan tinggi, ia mengambil jurusan Bahasa dan Sastra Jawa, yang
membuat kedua orang tuanya marah dan membiarkan ia hidup sendiri dengan tidak
membiayai kuliah dan hidupnya di Jakarta.
Go Tik Swan menunjukkan perannya,
tidak hanya sebagai penikmat dan penonton, tetapi juga menjadi pelaku aktif
untuk senantiasa menciptakan karya-karya seni baru tanpa mengubah nilai-nilai
tradisionalnya. Ia juga mengabdi di kraton Surakarta dan membantu mengurus
Museum Art Gallery milik kraton. Pengabdiannya itu membuat ia diangkat menjadi
Bupati Anom dengan gelar Raden
Tumenggung. Kemudian menjadi Bupati dengan gelar Kangjeng Raden Tumenggung,
pangkat berikutnya adalah Bupati Riyo Nginggil dengan gelar Kangjeng Raden
Hariyo Tumenggung. Gelar pangeran juga disandangnya yaitu Kangjeng Pangeran
Tumenggung dan Kangjeng Pangeran Aryo.
Dengan segala penghargaan yang ia
dapatkan dan kecintaannya terhadap kebudayaan Jawa, ia tidak serta merta
mengubah namanya hanya nama Jawa. Tetapi, ia juga tetap menggunakan nama
pemberian orang tuanya yaitu Go Tik Swan. Karena, ia menganggap bahwa nama
pemberian orabg tuanya itu harus dihormati dengan arti bahwa ia tidak melupakan
bahwa dirinya adalah warga Indonesia keturunan Tionghoa. Selain itu, ia juga
menjadi seorang muslim, hal itu dapat dibuktikan ketika ia mengadakan
upacara-upacara adat Jawa, ia tetap menggunakan doa-doa secara Islam, sesuai
agama yang dianutnya.
Kehidupan keluarganya tidak semulus pengabdiannya. Ia pernah menikah dan
bercerai ketika usia pernikahannya berusia lima tahun. Sehingga, ia mengangkat
abdi nya yang bernama Hardjosoewarno dan istrinya Supiyah menjadi adik dan
mengangkat empat dari enam anak mereka yang akan menjadi ahli waris nya ketika
ia meninggal kelak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar