Rabu, 13 Februari 2013

Sinopsis Buku Otobiografi Go Tik Swan Hardjonagoro “JAWA SEJATI”



Judul              : Otobiografi Go Tik Swan Hardjonagoro “JAWA SEJATI”
Pengarang      : Rustopo
Penerbit          : Penerbit Ombak bekerjasama dengan Yayasan Nabil Jakarta
Tahun terbit  : 2008
Tebal buku    : xxiii + 352 halaman
Sinopsis          :
            Go Tik Swan lahir pada hari Selasa Kliwon, 11 Mei 1931 di Surakarta. Sebelum pemerintah mengeluarkan peraturan tentang pemakaian nama Indonesia untuk warga keturunan Tionghoa, ia sudah menambahkan nama (Jawa) Hardjono didepan nama pemberian orang tuanya. Ia adalah putra sulung dari empat bersaudara dari pasangan Go Dhiam Ik dan Tjang Ging Nio.
            Go Tik Swan diambil oleh kakek-neneknya untuk tinggal bersama mereka di Kota Solo. Lingkungan ia tinggal inilah yang membentuk kepribadiannya. Di tempat pembatikan kakeknya setiap hari selalu terdengar lantunan tembang-tembang macapat yang dibawakan oleh ibu-ibu pembatik. Tetangganya, dua orang seniman dan budayawan yaitu Hadiwijaya dan Prabuwinata, rumahnya terbuka bagi Go Tik Swan untuk latihan tari dan gamelan. Setiap ada pertunjukan di klenteng dekat rumahnya, ia selalu menonton semalam suntuk.
            Ketika ia melanjutkan pendidikannya ke jenjang perguruan tinggi, ia mengambil jurusan Bahasa dan Sastra Jawa, yang membuat kedua orang tuanya marah dan membiarkan ia hidup sendiri dengan tidak membiayai kuliah dan hidupnya di Jakarta.
            Go Tik Swan menunjukkan perannya, tidak hanya sebagai penikmat dan penonton, tetapi juga menjadi pelaku aktif untuk senantiasa menciptakan karya-karya seni baru tanpa mengubah nilai-nilai tradisionalnya. Ia juga mengabdi di kraton Surakarta dan membantu mengurus Museum Art Gallery milik kraton. Pengabdiannya itu membuat ia diangkat menjadi Bupati Anom dengan gelar  Raden Tumenggung. Kemudian menjadi Bupati dengan gelar Kangjeng Raden Tumenggung, pangkat berikutnya adalah Bupati Riyo Nginggil dengan gelar Kangjeng Raden Hariyo Tumenggung. Gelar pangeran juga disandangnya yaitu Kangjeng Pangeran Tumenggung dan Kangjeng Pangeran Aryo.
            Dengan segala penghargaan yang ia dapatkan dan kecintaannya terhadap kebudayaan Jawa, ia tidak serta merta mengubah namanya hanya nama Jawa. Tetapi, ia juga tetap menggunakan nama pemberian orang tuanya yaitu Go Tik Swan. Karena, ia menganggap bahwa nama pemberian orabg tuanya itu harus dihormati dengan arti bahwa ia tidak melupakan bahwa dirinya adalah warga Indonesia keturunan Tionghoa. Selain itu, ia juga menjadi seorang muslim, hal itu dapat dibuktikan ketika ia mengadakan upacara-upacara adat Jawa, ia tetap menggunakan doa-doa secara Islam, sesuai agama yang dianutnya.
Kehidupan keluarganya tidak semulus pengabdiannya. Ia pernah menikah dan bercerai ketika usia pernikahannya berusia lima tahun. Sehingga, ia mengangkat abdi nya yang bernama Hardjosoewarno dan istrinya Supiyah menjadi adik dan mengangkat empat dari enam anak mereka yang akan menjadi ahli waris nya ketika ia meninggal kelak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar