Rabu, 13 Februari 2013

Sinopsis Buku Louis Pasteur “Penemu Serum”



Judul               : Louis Pasteur “Penemu Serum”
Penulis            : Dian Ansorie
Penerbit          : PenerbitDjambatan
Tahunterbit     : 1976
Sinopsis           :
            Louis Pasteur adalah anak dari Jean Pasteur, seorang penyamak kulit yang pindah dari desa kecil Dole, wilayah Bourgondia, di kaki pegunungan Jura, Prancis ke kota Arbois, Prancis. Louis adalah anak yang pandai sejak kecil disekolahnya, walaupun ia sering dihukum oleh gurunya karena sering kedapatan tidak menyimak. Tetapi, ia sangat menggemari satu pelajaran yaitu menggambar.
            Ketika Louis menempuh jenjang perguruan tinggi di Paris, dia terdaftar sebagai mahasiswa ilmu alam dan kimia. Sebagai mahasiswa yang rajin, tekun dan penuh semangat, ia mendapat perhatian dari dosen-dosennya. Sehingga dari tahun ke tahun dia selalu naik tingkat dengan angka-angka yang gemilang.
            Setelah menamatkan sekolahnya, dia diangkat menjadi asisten salah seorang profesor yang mengagumi kepandaian dan keuletannya. Dia dikenal sebagai sarjana yang paling tahan duduk di laboratorium. Setelah memberikan kuliah, dia selalu menyibukkan diri di laboratorium. Berkat keuletannya melakukan percobaan dan penelitian, dia berhasil dalam berbagai penelitian. Salah satu hasil penelitiannya yang dikenal oleh masyarakat adalah debu sebagai bakteri yang dapat membuat susu menjadi masam dan anggur menjadi kecut.
            Profesor itu semakin percaya dengan kemampuan Louis. Dia ditarik untuk memberi kuliah pada mahasiswa ilmu alam dan kimia di Strassburg dan Dijon. Di Strassburg dia berkenalan dengan Marie Laurent, anak dari direktur utama universitas tersebut, lalu dia menikahi Marie. Marie selalu membantu dia, karena Marie memposisikan diri sebagai istri seorang ilmuan dan ibu dari lima orang anak, sehingga Marie tidak dapat dipisahkan dari kehidupan Louis.
            Louis mulai masuk didunia kedokteran dengan mengemukakan pendapat bahwa proses yang menyebabkan manusia menjadi sakit tidak berbeda dengan proses menjadi masamnya anggur dan susu. Dan pendapat itu ditentang oleh semua pihak. Dia dianggap sinting dan dituduh anti Tuhan. Dia mengatakan bahwa dokter lah yang menularkan penyakit pada pasiennya dengan pakaian yang dikenakannya setelah membedah pasien, digunakan untuk menangani pasien yang lain dan alat-alat kedokteran yang tidak pernah dicuci bersih setelah digunakan untuk membedah pasien. Tetapi, pendapatnya itu menuai banyak pertentangan, bahkan dia selalu dihina dan dicemooh oleh masyarakat dan dianggap sebagai sarjana kimia sinting yang ingin diakui oleh dunia kedokteran. Ketik dia berhasil membunuh bakteri-bakteri yang membuat anggur menjadi masam dengan cara pemanasan, ada beberapa dokter yang tertarik kepada pensucihamaan yang dilakukan oleh Louis. Saat ini pensucihamaan lebih dikenal dengan sterilisasi dalam istilah kedokteran.
            Walaupun setiap hasil percobaan yang dilakukan Louis selalu mendapat penghinaan dunia kedokteran, namun dia tak pernah bosan untuk meneruskan penelitiannya. Semua yang dikerjakannya adalah untuk dunia kedokteran. Pembuatan serum, yaitu bakteri-bakteri yang telah dilemahkan, terus ditingkatkan. Dia sering datang ke rumah sakit untuk mempelajari berbagai penyakit. Hasil penyelidikannya mengantarkan dia kepada pembuatan serum pencegahan. Tetapi, usahanya tetap saja dicemoohkan oleh dunia kedokteran. Ketika ada seseorang yang membawa anjing gila ke laboratoriumnya. Dia meneliti bakteri-bakteri penyakit dalam tubuh anjing tersebut, lalu dikembangkannya dalam otak kelinci dan binatang-binatang lain. Setelah mengalami proses yang panjang dan melakukan percobaan yang sangat teliti, akhirnya dia menemukan serum rabies, yaitu bakteri anjing gila yang sudah dilemahkan. Tetapi, dia hanya menggunakan serum itu untuk binatang dan menunngu saaatnya tiba digunakan untuk manusia.
            Pada suatu ketika dia didatangi oleh dua orang dokter dan seorang wanita. Dua dokter kenalan Louis itu meminta tolong agar dia menolong anak wanita itu dengan serum rabiesnya karena anaknya telah digigit anjing gila. Awalnya dia ragu, tetapi akhirnya ia melakukan juga. Tindakannya ini dikecam oleh dunia kedokteran dari seluruh dunia. Tetapi, setelah mendengar kabar bahwa anak wanita itu sembuh dengan serum rabies Louis itu, para dokter yang protes itu tidak dapat berbuat apa-apa. Akhirnya Louis Patsteur dikenal oleh masyarakat dunia dan banyak sekali pesanan serum buatannya itu, tetapi dia tidak mempunyai modal yang cukup untuk membuatnya. Sehingga banyak dermawan dan hartawan yang membantunya untuk modal membuat serum itu.Dia telah sukses dengan serumnya dan memiliki laboratorium yang cukup besar yang berkembang menjadi Institut Pasteur. Louis Pasteur diangkat sebagai tokoh pembaharu dunia kedokteran. Tetapi, pada pengangkatannya itu dia tidak dapat hadir karena sedang sakit parah. Ia meninggal dengan tangan kirinya memeluk istrinya, Marie Laurent dan tangan kanannya memegang kitab suci.

Sinopsis Buku Otobiografi Go Tik Swan Hardjonagoro “JAWA SEJATI”



Judul              : Otobiografi Go Tik Swan Hardjonagoro “JAWA SEJATI”
Pengarang      : Rustopo
Penerbit          : Penerbit Ombak bekerjasama dengan Yayasan Nabil Jakarta
Tahun terbit  : 2008
Tebal buku    : xxiii + 352 halaman
Sinopsis          :
            Go Tik Swan lahir pada hari Selasa Kliwon, 11 Mei 1931 di Surakarta. Sebelum pemerintah mengeluarkan peraturan tentang pemakaian nama Indonesia untuk warga keturunan Tionghoa, ia sudah menambahkan nama (Jawa) Hardjono didepan nama pemberian orang tuanya. Ia adalah putra sulung dari empat bersaudara dari pasangan Go Dhiam Ik dan Tjang Ging Nio.
            Go Tik Swan diambil oleh kakek-neneknya untuk tinggal bersama mereka di Kota Solo. Lingkungan ia tinggal inilah yang membentuk kepribadiannya. Di tempat pembatikan kakeknya setiap hari selalu terdengar lantunan tembang-tembang macapat yang dibawakan oleh ibu-ibu pembatik. Tetangganya, dua orang seniman dan budayawan yaitu Hadiwijaya dan Prabuwinata, rumahnya terbuka bagi Go Tik Swan untuk latihan tari dan gamelan. Setiap ada pertunjukan di klenteng dekat rumahnya, ia selalu menonton semalam suntuk.
            Ketika ia melanjutkan pendidikannya ke jenjang perguruan tinggi, ia mengambil jurusan Bahasa dan Sastra Jawa, yang membuat kedua orang tuanya marah dan membiarkan ia hidup sendiri dengan tidak membiayai kuliah dan hidupnya di Jakarta.
            Go Tik Swan menunjukkan perannya, tidak hanya sebagai penikmat dan penonton, tetapi juga menjadi pelaku aktif untuk senantiasa menciptakan karya-karya seni baru tanpa mengubah nilai-nilai tradisionalnya. Ia juga mengabdi di kraton Surakarta dan membantu mengurus Museum Art Gallery milik kraton. Pengabdiannya itu membuat ia diangkat menjadi Bupati Anom dengan gelar  Raden Tumenggung. Kemudian menjadi Bupati dengan gelar Kangjeng Raden Tumenggung, pangkat berikutnya adalah Bupati Riyo Nginggil dengan gelar Kangjeng Raden Hariyo Tumenggung. Gelar pangeran juga disandangnya yaitu Kangjeng Pangeran Tumenggung dan Kangjeng Pangeran Aryo.
            Dengan segala penghargaan yang ia dapatkan dan kecintaannya terhadap kebudayaan Jawa, ia tidak serta merta mengubah namanya hanya nama Jawa. Tetapi, ia juga tetap menggunakan nama pemberian orang tuanya yaitu Go Tik Swan. Karena, ia menganggap bahwa nama pemberian orabg tuanya itu harus dihormati dengan arti bahwa ia tidak melupakan bahwa dirinya adalah warga Indonesia keturunan Tionghoa. Selain itu, ia juga menjadi seorang muslim, hal itu dapat dibuktikan ketika ia mengadakan upacara-upacara adat Jawa, ia tetap menggunakan doa-doa secara Islam, sesuai agama yang dianutnya.
Kehidupan keluarganya tidak semulus pengabdiannya. Ia pernah menikah dan bercerai ketika usia pernikahannya berusia lima tahun. Sehingga, ia mengangkat abdi nya yang bernama Hardjosoewarno dan istrinya Supiyah menjadi adik dan mengangkat empat dari enam anak mereka yang akan menjadi ahli waris nya ketika ia meninggal kelak.